Dalam sejarah planet ini sejak manusia modern menjelajah keluar dari rahimnya di Afrika Timur ke berbagai kontinen 100.000 tahun silam, makhluk pendatang baru ini lebih sering merusak dan menikung proses evolusi, bukan memfasilitasinya. Perilaku itu dinubuatkan sekaligus mendapatkan cap resmi lewat konsep pertarungan hidup-mati ala on the Origin of Species dari Darwin (1859). Manusia modern membawa spirit itu ke berbagai bentuk. Mereka yang paling kuat bertarung dengan cakar berdarah, itulah yang menang pada akhirnya. Evolusi berdiri di atas kekuatan itu, yakni pada saling tikam dan baku hantam terus menerus. Darwin menjadi dogma yang menyebar ke berbagai tindak tanduk.
Penaklukan dunia melalui pengerukan bumi meski kadang hanya untuk tujuan kesenangan semata merupakan buah dari agama Darwin. Buat Darwin, perjuangan dan kekerasan bukan saja karena manusia mempunyai karakter binatang tetapi menjadi dasar yang menentukan perjalanan evolusi. Karena itu, konflik, kekerasan, saling menyingkirkan adalah watak dasar yang harus ada agar suatu makhluk bertahan. Dalam bahasa sederhana, dunia ini ganas. Sikat atau kita yang disikat.
Jarang diangkat oleh banyak tulisan bahwa 50 tahun sebelum Darwin, pencetus pertama teori evolusi, Jean Baptiste Lamarck (1744-1829), biolog berkebangsaan Prancis, mengemukakan proses evolusi yang berbeda sama sekali dari Darwin. Dia meyakini bahwa evolusi merupakan buah dari proses makhluk hidup belajar, interaksi yang koperatif dan lingkungan yang menopang untuk mendukung bentuk-bentuk kehidupan yang dapat bertahan dan menemukan bentuknya untuk berkembang dalam dunia yang dinamis. Semuanya itu menuju pada satu sistem yang tertib atau harmoni, le pouvoir de la vie atau la force qui tend sans cesse à composer l’organisation (kekuatan yang cenderung membentuk ketertiban).
Sayangnya, Lamarck berdiri di tengah kesunyian. Dia menghabiskan sisa hidupnya menghadapi sendirian caci maki Gereja dan ilmuwan lainnya yang tidak siap dengan gagasan revolusionernya saat itu. Di kemudian hari, Darwin mengakui dengan jujur bahwa teori evolusi yang dia kembangkan mengabaikan relasi positif antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Namun, para pakar di kemudian hari tetap mendewakan gagasan perseteruan konstan ala Darwin.
Ratusan tahun setelah Lamarck, banyak ilmuwan mulai memahami bahwa evolusi merupakan proses jutaan tahun yang menjaga ritme dan harmoni tertentu. Karenanya, evolusi bukan suatu ekspresi chaos yang semata-mata ribut gaduh never ending tetapi mempunyai tujuan. Pada berbagai arena kita dengan mudah menyaksikan bahwa proses seleksi yang dimaksud Darwin pada dasarnya adalah kesepakatan alamiah yang berlangsung antara makhluk untuk menjaga ritme tertentu. Konsep mata rantai makanan yang laris itu, bukan untuk menegaskan bahwa antara makhluk boleh dan wajib saling menghabisi. Tetapi menunjukan bahwa keberadaan satu makhluk, sekecil apapun dia, mempunyai peran bagi yang lain. Dia ada karena dibutuhkan oleh makhluk lainnya. Itulah harmoni. Bukan pertarungan.
Menurut Bruce Lipton, penulis the Biology of Belief, hipotesis Lamarck mengenai mekanisme evolusi mengkonfirmasi pemahaman pakar biologi sel modern mengenai adaptasi sistem imun terhadap lingkungan. Bahwa sistem imunitas menyesuaikan diri secara terus menerus dan menemukan bentuk baru pada lingkungannya tempat dia hidup. Karena itu, ketika lingkungan rusak, sistem imunitas juga ikut goyah. Artinya, terdapat proses menjaga harmoni atau kerja sama antara manusia dan lingkungan pendukungnya.
Kenyataan juga mengamini bahwa peradaban akan terbebentuk ketika ditopang oleh kerja sama yang sehat, bukan perang dan kehancuran. Sejarahwan Yuval Noah Harari dalam dua bukunya yang fenomenal Homo Sapiens dan Homo Deus menunjukan dua hal yang memungkinkan peradaban global terbentuk yakni kerja sama dan agama (keyakinan).
Melalui kerja sama, manusia modern menghasilkan barang dan jasa. Tidak hanya skala lokal seperti gotong royong ala kampung atau arisan RT tetapi juga koalisi global. Hari-hari ini, suku cadang produk Jepang bisa dibikin di Vietnam atau Cikarang. Orang Labuan Bajo bisa bolak balik terbang ke Denpasar karena ada pesawat; produk kerja sama para ilmuwan. Tanpa kerja sama, manusia tetap hidup terisolir di pedalaman dan bertahan disana menghadapi predator lain atau bahkan komunitas lain, hingga mereka menuntaskan sisa hidupnya.
Sementara agama atau keyakinan tidak hanya memproduksi agama sebagai institusi tetapi menghidupkan imajinasi untuk membentuk macam-macam organisasi. Mulai dari persekutuan yang dibatasi hubungan darah menjadi suatu bangsa, negara, perusahaan, bahkan organisasi global. Mereka menjadi entitas bersama yang saling mendukung dan manufaktur dari pengetahuan hingga produk barang dan jasa modern.
Meski kerja sama menunjukan keunggulan, watak darwinisme tetap bergurat akar. Manusia masih dianggap konco dekat simpanse dan gorila yang baku hantam untuk mendapatkan pisang dan apel. Ide ini bertahan dan diwujudkan. Bahkan nampak dalam organisasi yang spiritnya adalah kerja sama. Sikut menyikut antara lawan politik, kelompok yang gemar menghasut dan berujar kebencian dan kekerasan, dan tipologi sejenis itu pada dasarnya memang mewakili Darwin. Jangankan pada komunitas yang luas dan longgar, bahkan di internal keluarga pun demikian. Suara melengking antara anggota keluarga yang satu dan yang lainnya, kadang pertarungan fisik mewakili tesis Darwin bahwa kita memang mempuyai karakter binatang yang binal dan brutal. Hanya sedikit beda geng dari singa, monyet, dan rekan-rekannya.
Namun, sejarah membuktikan dalam dirinya sendiri, perang dan kekerasan cenderung menjadi abu dan arang daripada pohon yang berbuah lebat. Kekerasan tidak menghasilkan apa-apa, selain kehancuran. Kekerasan dalam konsep Darwin tidak hanya pada sesama manusia, tetapi terutama terhadap alam. Perusakan alam yang mau menunjukan dominasi dan keperkasaan manusia menuai badai dalam krisis ekologi akhir-akhir ini. Celakanya, konsep manusia sebagai jawara itu diteruskan dalam cara sejumlah pejabat daerah yang sok kuasa dan kadang sok tahu mengeksploitasi bumi, meski kecenderungan alamiah menunjukan krisis.
Gagasan Lamarck ratusan tahun silam layak untuk menjadi wacana utama dalam situasi saat ini. Tidak hanya dalam organisasi sosial tetapi juga dalam hubungan dengan alam. Jika kita yakin bahwa antara setiap komponen alam semesta ini saling bekerja sama maka semestinya manusia memfasilitasi ekosistem yang sehat. Setiap kita bertanggung jawab mendukung mata rantai kehidupan dengan mendukung kelestarian dan menjaga ritme ekosistem.
Sudah saatnya teori kerja sama mengungguli konflik. Kerja sama telah membuktikan keampuhannya dalam membangun peradaban. Mengapa kita meyakini saling gebuk sebagai fondasi peradaban, jika yang kita nikmati saat ini adalah buah dari kerja sama kolektif. Pertanyaan ini patut menjadi refleksi akademik sekaligus peringatan spritual. Kita lebih dari sekedar monyet yang memperebutkan pisang. Kita adalah manusia cerdas yang berkoalisi dan mengabdikan diri untuk berkehidupan sosial bersama yang lain.