Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Sampit

Sumber : kompas.com
7 Juli 2011

Kabut asap yang menyelimuti wilayah udara di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai mengganggu rute penerbangan di daerah tersebut.

Kepala Bandara Udara Haji Asan Sampit Maruli Tua Edison Saragih, Kamis (7/7/2011), mengatakan, asap kebakaran hutan dan lahan saat ini telah mengganggu penerbangan ke dan dari Bandara H Asan. “Akibat saputan kabut asap itu, kedatangan dan keberangkatan pesawat di Bandara Haji Asan Sampit sering terlambat,” ucapnya.

Dikatakan, landasan pacu dalam sepekan terakhir sering tertutup asap sehingga menyulitkan pesawat yang akan mendarat terutama untuk pagi hari. Demi keselamatan penumpang, pesawat baru diizinkan mendarat setelah asap yang menyelimuti landasan pacu berkurang.

Pesawat yang akan mendarat di Bandara Haji Asan Sampit sempat berputar-putar di udara sebelum mendarat setelah landasan terlihat.

Menurut Edison, fasilitas Bandara Haji Asan Sampit saat ini belum lengkap sehingga tidak bisa memandu pesat yang akan mendarat pada saat landasan pacu tertutup asap. Untuk memberikan panduan itu sebetulnya dibutuhkan sebuah alat sistem pendaratan instrumen (instrumen landing system).

Selain tidak dilengkapi alat tersebut, landasan pacu juga hanya sebagian yang dipasangi lampu pandu. Dari 1.850 meter panjang landasan, hanya 1.200 meter yang dilengkapi lampu dan 650 meter dalam kondisi gelap.

“Kami telah mengusulkan alat pemandu pendaratan tersebut ke kantor pusat, tetapi  hingga saat ini belum ada realisasinya. Padahal, alat tersebut sangat dibutuhkan demi keselamatan penerbangan,” katanya.



I believe we can’t keep fighting for collective action if we don’t start it ourselves. For me, fighting for a sustainable environment begins with something small: eating proportionately. I think about how, throughout human history, the stomach has often been the beginning of all greed. How can we truly talk about controlling global consumption if we can’t even control our own desire to eat everything?

That’s why I’m committing to practicing autophagy daily, limiting my consumption of imported foods, and prioritizing buying local food directly from farmers.

Newsletter